>

Minggu, 16 Desember 2012

Osi Layer

Open Systems Interconnection (OSI) diciptakan oleh International Standar Organization (ISO), yaitu badan yang menyediakan kerangka logika terstruktur tentang bagaimana proses komunikasi data berinteraksi melalui jaringan. OSI layer merupakan konsep dasar pada suatu jaringan komputer, yangdibuat untuk menerangkan struktur dan fungsi protokol komunikasi data. Tujuan utama penggunaan model OSI adalah untuk membantu desainer jaringan memahami fungsi dari tiap-tiap layer yang berhubungan dengan aliran komunikasi data. Standarisasi masalah jaringan tidak hanya dilakukan oleh ISO saja, tetapi juga diselenggarakan oleh badan dunia lainnya seperti ITU (International Telecommunication Union), ANSI (American National Standard Institute), NCITS (National Committee for Information Technology Standardization), bahkan juga oleh lembaga asosiasi profesi IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers) dan ATM-Forum di Amerika. Pada prakteknya bahkan vendor-vendor produk LAN ada yang memakai standar yang dihasilkan IEEE.


OSI Layer mendukung komunikasi antar komputer yang berbeda platform. Sebelum adanya OSI, setiap perusahaan komputer seperti IBM dan DEC mempunyai arsitektur masing-masing sehingga produk yang dihasilkan mereka tidak bisa saling inter-operasi.

OSI memiliki 7 layer, yang mana setiap layernya mempunyai fungsi yang berbeda-beda, yaitu application layer, presentation layer, session layer, transport layer, network layer, datalink layer, dan apllication layer. Secara garis besar layer-layer OSI dibagi menjadi dua bagian, yaitu upper layer (aplikasi, presentasi, dan sesi) dan lower layer (transport, network, data link dan fisik). Setiap layernya bersifat self-contained yang artinya fungsi yang diberikan ke setiap layer dapat di implementasikan secara independent, maksudnya pembaruan fungsi suatu layer tidak akan mempengaruhi layer lainnya, namun setiap fungsinya spesifik dan mendukung lapisan diatasnya dan sekaligus juga menawarkan layanan untuk lapisan yang ada di bawahnya. Banyak kelebihan dari model OSI ini, diantaranya karena protocol lebih mudah diatur dan dipantau, layer yang dibawahnya mudah diubah tanpa mempengaruhi layer yang di atas, dan upper layer dapat menggunakan fungsi-fungsi yang telah didefinisikan oleh lower layer, oleh karena kejelasan fungsi dari masing-masing layer itulah model OSI layer kini banyak digunakan. Dari kelebihan yang ada, terdapat pula kekurangan pada model OSI layer ini, yaitu layering juga dapat menambah kompleksitas proses, karena masing-masing layer harus mengerjakan fungsinya masingmasing dan memiliki kemampuan proses yang berlainan. Proses pembungkusan yang dilakukan untuk fungsi information hiding kurang efisien, karena setelah sampai ke host tujuan, pembungkus yang digunakan untuk menyembunyikan informasi tadi dibuang satu persatu.
Di dalam setiap layer terdapat beberapa protokol. Protokol berfungsi sebagai aturan dalam pengiriman (pelewatan) data dalam layer. Berikut adalah contoh-cobtoh protokol yang umum pada setiap layer (tidak termasuk sub-protocol) :

Layer Aplikasi

  • HTTP (Hyper Text Transfer Protocol), protokol untuk transfer file HTML dan Web .
  • DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol), protokol untuk distribusi IP pada jaringan dengan jumlah IP yang terbatas .
  • DNS (Domain Name Server), Database nama domain mesin dan nomor IP.
  • FTP (File Transfer Protocol), protokol untuk transfer file.
  • MIME (Multipurpose Internet Mail Extension), protokol untuk mengirim file biner dalam bentuk teks.
  • NNTP (Network News Transfer Protocol), protokol untuk menerima dan mengirim newsgroup
  • POP (Post Office Protocol), protokol untuk mengambil mail dari server.
  • SMB (Server Message Block), protokol untuk transfer berbagai server file DOS dan Windows.
Layer Presentasi

  • SMTP (Simple Mail Transfer Protocol), protokol untuk pertukaran mail.
  • SNMP (Simple Network Management Protocol), protokol untuk manajemen jaringan.
  • Telnet, protokol untuk akses dari jarak jauh.
  • TFTP (Trivial FTP), protokol untuk transfer file.
Layer Sesi

  • NETBIOS (Network Basic Input Output System), BIOS jaringan standar.
  • RPC (Remote Procedure Call), prosedur pemanggilan jarak jauh.
  • SOCKET, Input Output untuk network jenis BSD-UNIX.
Layer Transport

  • TCP (Transmission Control Protocol), protokol untuk pertukaran data berorientasi (connection oriented).
  • UDP (User Datagram Protocol), protokol pertukaran data non-orientasi (connectionless).
Layer Network

  • IP (Internet Protocol), protokol untuk menetapkan routing.
  • RIP (Routing Information Protocol), protokol untuk memilih routing.
  • ARP (Address Resolution Protocol), protokol untuk mendapatkan informasi hardware dari nomer IP.
  • RARP (Reverse ARP), protokol untuk mendapatkan informasi nomer IP dari hardware (pembalik ARP).
Layer Data Link

  • PPP (Point to Point Protocol), protokol untuk point ke point. Protokol ini dipakai pada sub-layer
  • LLC (Logical Link Control).
  • SLIP (Serial Line Internet Protocol), protokol dengan menggunakan sambungan serial. Protokol ini dipakai pada sub-layer MAC (Media Access Control).
Layer Fisik

  • Electrical/Optical, Mechanical, Functional, dan Procedural protocol.

Secara garis besar, fungsi masing-masing layer adalah sebagai berikut :
Physical Layer

  1. Memindahkan bit antar devices.
  2. Berkomunikasi langsung dengan jenis media transmisi
  3. Merepresentasikan bit.
  4. Menentukan kebutuhan listrik, mekanis, prosedural, dan fungsional, mempertahankan dan menonaktifkan hubungan fisik antarsistem.

Intinya layer ini berurusan dengan hardware.
Datalink Layer

  1. Mengkomunikasikan bit ke bytes dan byte ke frame.
  2. Menerima perangkat medua berupa MAC Addressing.
  3. Deteksi error dan recovery error.
  4. Menyediakan transmisi phisik dari data.
  5. Menangani notifikasi error, topologi jaringan, flow control.
  6. Memastikan pesan-pesan akan terkirim melalui alat yang sesuai di LAN menggunakan hardware address (MAC).
  7. Menterjemahkan dari layer network di atasnya ke bit-bit layer fisik di bawahnya.
  8. Melakukan format pesan atau data menjadi pecahan-pecahan (data frame).
  9. Menambahkan header yang terdiri dari alamat HW sources & destination (semacam informasi kontrol).
  10. Mengidentifikasi peralatan pada network.
  11. Membentuk enkapsulasi yang membungkus data asli.
  12. Enkapsulasi akan dilepas setelah paket diterima oleh layer di bawahnya.
  13. Enkapsulasi akan berlanjut di hop lain hingga paket sampai ke tujuan.
  14. Paket tidak akan berubah sepanjang pengiriman.
Network Layer

  1. Mengangkut lalu lintas antar peralatan yang tidak terhubung secara lokal.
  2. Paket diterima oleh interface router.
  3. Router akan mencek alamat IP tujuan.
  4. Melakukan routing tabel.
Transport Layer

  1. Melakukan segmentasi dan menyatukan kembali data yang tersegmentasi (reassembing) dari upper layer menjadi sebuah arus data yang sama.
  2. Menyediakan layanan transportasi data ujung ke ujung.
  3. Membuat sebuah koneksi logikal antara host pengirim dan tujuan pada sebuah internetwork.
  4. Bertanggung jawab menyediakan mekanisme multiplexing.
Session Layer

  1. Mempertahankan data dari berbagai aplikasi yang digunakan.
  2. Bertanggung jawab untuk membentuk, mengelola, dan memutuskan session-session antar-layer di atasnya.
  3. Kontrol dialog antar peralatan / node.
  4. Koordinasi antar sistem-sistem dan menentukan tipe komuniskasinya (simplex, half duplex, full duplex).
  5. Menjaga terpisahnya data dari banyak aplikasi yang menggunakan jaringan.
Presentation Layer

  1. Bagaimana data dipresentasikan.
  2. Menyajikan data.
  3. Layanan Penterjemah.
  4. Menentukan tipe data (gambar, audio, video, atau teks), enkripsi (ASCII atau EBCDIC), dan ekstensi file agar file siap ditampilkan dilayer aplikasi.
Application Layer

  1. Interface antara jaringan dan SW aplikasi.
  2. Mengkomunikasikan service ke aplikasi.
Setiap melewati layer data mengalami proses enkapsulasi dan dis-enkapsulasi, yaitu pembungkusan data dan penambahan atau pengurangan header.

Sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar